Jumat, 03 Juli 2009

SUDAHKAH ANDA MENGHARGAI WAKTU?




Apa yang sudah kita lakukan hari ini, kemarin,
seminggu yang lalu dan tahun yang lalu tidak akan
mungkin terulang lagi. Waktu yang sudah berlalu tidak
mungkin kita lewati untuk kedua kalinya. Indahnya masa
kecil dan masa muda yang pernah kita rasakan tidak
akan kembali lagi. Begitu berartinya waktu sehingga
berbagai negara mempunyai ungkapan tersendiri untuk
penghargaan terhadap waktu. Orang Arab mengatakan
waktu itu ibarat pedang, jika kita tidak memakainya
dengan baik dan benar maka ia akan memotong dirimu.
Orang Inggris menyatakan time is money dan orang
Indonesia sendiri menyatakan sesal dahulu pendapatan
sesal kemudian tiada berguna.

Allah SWT bersumpah mengenai pentingnya waktu pada
permulaan beberapa surah Makkiyah dalam Al-Quran.
Misalnya, surah An-Asr yang artinya,“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya
mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran.”

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bazzar dan
Thabrani, dari Mu’adz bin Jabal, bersabda Rasuluulah
SAW,”Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki
seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan
kepadanya empat perkara : usianya untuk apa ia
habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan,
hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia
keluarkan, serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat
dengannya.

Orang yang tidak mengerti pentingnya waktu, pada suatu
saat pasti akan tahu dan mengerti harga sebuah waktu
dan nilai dari suatu pekerjaan. Namun, kadang
penyesalan itu datang terlambat dan tidak ada lagi
manfaat tinggal omong kosong semata. Keadaan orang
yang demikian jelas tergambar dalam Al-Quran .
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka
mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu
sebelum datang kematian kepada salah seorang di
antara kamu: lalu ia berkata,” Ya Rabku, mengapa
Engkau tidak menangguhkan(kematian) ku sampai waktu
yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan
aku termasuk orang-orang yang
saleh.”(Al-Munafiqun:9-10)

Bila sebuah daerah maupun negara menganggap Tsunami,
Banjir, Angin Puting Beliung, dan Lumpur Lapindo
adalah sebuah bencana, maka bagi seorang individu
bencana adalah menyia-nyiakan waktu. Adapun
bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktu antara lain
kelalaian dan suka menunda sesuatu.

Semua peristiwa yang terjadi di sekitar kita harus
dianggap sebagai pembelanjaran untuk masa mendatang.
Tragedi Lumpur Lapindo, Tsunami di Aceh dan masa lalu
yang tidak baik, jika hanya menjadi sebuah peristiwa
yang sudah terjadi dan berlalu begitu saja tanpa kita
ambil pelajaran berharga di dalamnya, maka kita
termasuk orang yang lalai. Kita mengetahui berbagai
ilmu tetapi tidak kita pelajari dan kita amalkan,
bahkan hanya kita anggap sebagai wacana semata pun
termasuk juga kelalaian. Datang ke majlis ilmu hanya
sekedar datang, duduk, pulang pun merupakan kelalaian,
jika tidak kita pelajari lagi dan kita amalkan.

Dalam surat Al- Araf ayat 179 Allah berfirman: “Dan
sesungguhnya kami jadikan isi neraka jahanam
kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami
(ayat-ayat Alllah), dan mereka mempunyai mata (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk melihat(tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang
yang lalai.”


Selain kelalaian, bencana yang menimpa individu adalah
selalu menunda pekerjaan. Kata nanti selalu menjadi
alasan klasik yang tidak berujung pangkal, sehingga
mengucapkan kata nanti sudah menjadi kebiasaan, ciri
khas dan prinsip hidup. Kebiasaan tersebut kalau sudah
melekat dalam jiwa maka akan susah untuk
menanggalkannya. Jika tidak segera diberantas maka
seiring perjalanan waktu kita akan merasakan betapa
banyak kerugian yang kita dapatkan.

Seorang pelajar ketika diberi tugas oleh gurunya, ia
tidak segera menyelesaikannya, maka ketika
di sekolah ia harus menelan pil pahit yang ia lakukan
sendiri. Seorang mahasiswa yang selalu menunda tugas
akhir/skripsi maka droup out tengah mengancamnya.
Begitu juga seorang muslim yang melakukan kesalahan
tidak segera bertaubat ,maka dosa-dosanya akan
bertambah terus dan semakin menumpuk. Apabila hal
tersebut dibiarkan hingga kematian menghampirinya,
maka neraka telah siap menghadangnya.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu
apabila berbuat dosa akan ada di dalam
hatinya bintik hitam, seandainya ia bertaubat,
menanggalkannya dan memohon ampunan akan hilang bintik
hitamnya, dan apabila ia menambah niscaya akan
bertambah, sehingga akan menutup hatinya. Itulah
sebenarnya penutup yang disebutkan oleh Allah dalam
kitabNya. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa
yang selalu mereka usahakan itu menutup hati
mereka.”
(H.R. Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah).

Menurut DR. Yusuf Al-Qardhawi waktu mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut:

1. Cepat berlalunya.

Waktu yang telah kita lalui tidak terasa oleh diri
kita.Ketika menginjak usia kepala empat tidak kita
sadari banyaknya perubahan di sekitar kita, rasanya
baru kemarin kita berusia 17 tahun.
Jika banyak orang beranggapan bahwa hari-hari gembira
itu berlalu begitu cepat dan hari-hari sedih berlalu
begitu lamban, itu hanyalah perasaan seseorang saja
bukan keadaan yang sebenarnya. Apabila akhir dari umur
adalah kematian, maka panjang pendeknya usia tiada
perbedaan.

2. Waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali dan
tidak dapat diganti.

Semua yang kita lakukan setiap hari berlalu dan setiap
jam lewat atau setiap kesempatan jalan, tidak mungkin
akan kembali atau dapat digantikan. Para penyair yang
telah lanjut usia menuangkan apa yang ia rasakan dalam
puisi yang dibuatnya,

Seseorang hanyalah pengendara di atas pundak umurnya.
Berkelana mengikuti hari dan bulan
Ia lalui siang dan malam harinya
Semakin jauh dari kehidupan.
Semakin dekat dengan kuburan.

Seorang penyair terkenal di Indonesia dan
karya-karyanya selalu dijadikan objek pembelanjaran,
Charil Anwar, di ujung kematianya yang masih teramat
muda (dua puluh tujuh tahun) menginginkan umurnya
diperpanjang seperti yang ia tuliskan dalam puisi yang
berjudul AKU.

Aku
Kalau sampai waktuku
Kumau takkan seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang …. menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari…berlari
Hingga hilang pedih perih
Aku tak peduli
Aku mau hidup
Seribu tahun lagi

Bahkan grup band terkenal di Indonesia, UNGU, sempat
merilis album yang bertemakan waktu. Lagu yang
menggambarkan seseorang yang minta untuk diberi
perpanjangan waktu agar bisa berbuat kebaikan sebelum
ajal menjemput.

Andai kutahu kapan tiba ajalku
ku akan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku
Andai kutahu kapan tiba masaku
aku kan memohon Tuhan jangan Kau ambil nyawaku
aku takut akan semua dosa-dosaku
aku takut dosa-dosa yang terus membayangiku
andai kutahu malaikatMu kan menjemputku
ijinkan aku mengucap kata tobat kepada Mu
ampuni aku dari sgala dosa-dosaku……

3. Waktu adalah hal yang termahal yang dimiliki oleh
manusia.

Dikarenakan waktu itu berlalu dengan cepat dan tidak
akan kembali bahkan tidak akan ada gantinya, maka
waktu adalah harta yang paling mahal dan berharga yang
dimiliki manusia.Jika harta kita hilang, kita masih
bisa mencarinya lagi. Namun, jika waktu telah berlalu
ke mana kita cari? Waktu bukanlah berharga emas
permata, bukanlah segala bentuk berlian, namun waktu
adalah “Kehidupan, kata Hasan AL-Banna. Bukankah
kehidupan seseorang itu adalah waktu yang dipergunakan
dari semenjak ia hidup hingga meninggal.

“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah
merupakan kumpulan dari hari- hari, setiap kali hari
berlalu akan berlalu pula bagian umurmu.”(Hasan
Al-Bashri).

Begitu banyaknya penekanan-penekanan untuk menghargai
waktu, maka perlu kita pahami dan renungkan bahwa
waktu yang disediakan oleh Allah SWT bagi kita
hanyalah selama kita hidup di dunia saja. Ada yang
bisa mencapai usia 100 tahun, 80 tahun, 60 tahun
bahkan banyak yang kurang dari 50 tahun. Rata-rata
usia bangsa Indonesia di bawah 60 tahun. Aktivitas
yang kita lakukan jika diatur mulai usia 7 tahun maka
katakanlah usia kita 55 tahun. Kurang lebih sepertiga
dari hari-hari kita digunakan untuk tidur atau
beristirahat . Jadi, sekitar 18 tahun aktivitas kita
berkurang untuk mengistirahatkan organ-organ tubuh
yang telah capai. Sisanya, yaitu 37 tahun kita gunakan
untuk beraktivitas sesuai dengan keinginan dan keadaan
kita.

Sebagai manusia yang tidak ingin menyesal di kemudian
hari, maka kita harus pandai-pandai memanajemen waktu.
Misalnya saja kita sebagai ibu rumah tangga maupun
seorang pekerja maka kita hitung saja untuk bekerja
8 jam untuk beristirahat dan lain-lain 3 jam untuk
tidur 7 jam, semuanya 18 jam. Kita mempunyai sisa
waktu 6 jam setiap hari. Tentu saja ini masih ditambah
dengan waktu hari Jumat dan hari Ahad yang bila kita
hitung jumlahnya setiap Ahad menjadi cukup banyak dan
dapat kita manfaatkan untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang berguna.

Bila waktu senggang kita biarkan berlalu, ada
kemungkinan hal tersebut akan menjadi gaya hidup dan
mendorong kita melakukan kegiatan-kegiatan yang kurang
berguna, atau bahkan yang sifatnya negatif dan akan
mendatangkan penyakit malas atau bosan. Hal ini akan
dapat mengakibatkan memperlemah semangat kita sebagai
hamba Allah untuk senantiasa belajar dan bekerja
keras.

Dalam mengatur waktu setiap orang dapat memilih
cara-cara untuk memanfaatkan waktu senggangnya sesuai
dengan kemampuan dan kecerdikannya sendiri. Sebagai
contoh ada seorang ibu rumah tangga yang pada waktu
mendidik anak dan mengatur pekerjaan rumah terencana
dengan baik, maka semua kegiatan sehari-hari, dari
waktu pagi hingga malam hari akan berjalan lancar dan
tidak ada kolom waktu yang terbuang. Jam berapa ia
harus bangun tidur, memasak, mempersiapkan kebutuhan
suami sebelum kerja dan anak-anak sebelum berangkat
sekolah, mencuci, menemani belajar anak-anak, dan
pergi ke majlis ilmu.

Namun, sebaliknya jika seorang ibu justru banyak
menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan tetangga
bahkan sampai menggosip, berarti ia telah kehilangan
beberapa menit mungkin juga beberapa jam untuk hal
yang tidak berguna dan mungkin juga menjurus kepada
perbuatan dosa. Apalagi malam harinya digunakan
begadang atau bahkan menonton televisi hingga larut
malam. Tentu saja dapat kita lihat hidupnya menjadi
tidak teratur. Akibat yang sangat mungkin dideritanya
ialah kondisi rumah tangga / hidupnya menjadi
kacau.Hal ini akan sangat mempengaruhi pendidikan anak
dan suasana keluarga menjadi tidak kondusif.

Kelalaian-kelalaian mengatur waktu seperti ini sudah
bukan rahasia umum lagi dan jika dibiarkan terus
menerus maka akan mengganggu kehidupan kita bahkan
akan merusak masa depan seseorang. Oleh karena itu
mulai saat ini marilah kita mengubah gaya hidup yang
menghambur-hamburkan waktu dan mulai lebih menghargai
waktu dengan cara memanajemen dengan baik apa yang
telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita.

Lihatlah orang-orang di sekitar kita, tidak dapat
dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai
kesuksesan adalah orang –orang yang sangat
menghargai waktu dan berdisiplin menggunakan waktu.
Dengan kecermatan membagi waktu, akhirnya mereka bisa
menikmati hasil jerih payah mereka baik berupa
finansial maupun kebutuhan rohani. Mereka mungkin saja
sebagai ulama, mahasiswa, ilmuwan, pengusaha, juara
kelas yang betul-betul menyadari betapa berharganya
waktu meskipun hanya sedetik.

Sebagai seorang muslim kita mempunyai kewajiban
terhadap waktu yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Kewajiban-kewajiban itu antara lain:

1. Menjaga manfaat waktu

Waktu yang telah diamanatkan kepada kita hendaknya
kita jaga sebagaimana kita menjaga harta benda kita,
bahkan harus lebih dari itu. Manfaatkan waktu untuk
kepentingan diri serta untuk kebaikan orang lain /
umat dalam mencapai kehidupan baik spiritual maupun
materil.Kita harus menjaga agar hari-hari tidak
berlalu sedikitpun kecuali dapat mendatangkan ilmu
bermanfaat atau perbuatan baik.
“Barangsiapa yang hari ini seperti hari kemarin ia
adalah orang yang tertipu dan barangsiapa yang hari
ini lebih buruk dari hari kemarin ia adalah yang
tercela.”

2. Tidak menyia-nyiakan waktu

Melakukan aktivitas yang tidak membawa manfaat berarti
kita telah menyia-nyiakan waktu, misalnya yang banyak
terjadi dalam masyarakat, bermain catur, bermain
kartu, menggosip. Hal ini akan membuang waktu percuma,
maka selayaknya harus kita hindari. Apa yang mereka
lakukan sering membuat lupa mengingat Allah, lupa
menunaikan shalat, serta lupa kewajiban-kewajiban
agama dan keluarga. Ketika diingatkan dengan santai
mereka menjawab,” Ini hanya sekedar refresing
belaka.” Mereka tidak tahu bahwa dengan demikian,
mereka sebenarnya telah menyia-nyiakan diri mereka
sendiri.

3. Mengisi kekosongan

Dari ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: Dua nikmat
Allah yang tertipu oleh kebanyakan manusia ; nikmat
sehat dan nikmat waktu luang.
Dalam Hadis lain Rasulullah juga bersabda:
“Pergunakanlah lima perkara sebelum datangnya lima
perkara yang lain: kehidupan sebelum datang
kematianmu, kesehatan sebelum datang penyakitmu,
kekosonganmu sebelum datang kesibukanmu, masa muda
sebelum datang masa tuamu, kekayaanmu sebelum datang
kemiskinanmu.”

Waktu yang kosong tidak akan berlalu begitu saja,
tiap-tiap orang mempunyai cara tersendiri dalam
mengisi kekosongan tersebut. Kebaikan dan keburukan
akan senantiasa mengiringi dan menjadi pilihan setiap
orang. Barangsiapa yang berjiwa lemah maka waktu
luangnya akan terisi dengan kebatilan-kebatilan yang
akhirnya menyengsarakan diri sendiri.Bagi para pemuda
waktu luang bisa menimbulkan angan-angan kotor yang
penuh nafsu syahwat atau mimpi-mimpi yang
menggairahkan yang berakibat buruk bagi kehidupan
dunia dan akherat. Namun, berbahagialah orang yang
selalu menggunakan waktu luang dengan kebaikan dan
kebenaran, hidupnya terasa damai dan tentram.

4. Berlomba-lomba dalam kebaikan

Orang mukmin yang mengerti akan nilai dan pentingnya
waktu, maka akan selalu mengerjakan dan berlomba-lamba
menuju kebaikan baik untuk kehidupan dunia maupun
akherat. Mereka tidak ingin menunda-nunda kewajiban
hari ini ke hari yang lain, dengan alasan malas atau
berat hati.
Himbauan Allah SWT kepada manusia agar selalu
berlomba-lomba dalam kebaikan, sebagaimana firmanNya:
“Dan bagi tiap-tiap sesuatu umat ada kiblatnya
(sendiri) yang ia menghadap kepadaNya. Maka
berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja
kamu berada Allah pasti akan mengumpulkan kamu
sekalian (pada hari kiamat).”(Al-Baqoroh:148).

Di ayat lain Allah juga berfirman,
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan
satu umat(saja), tetapi Allah hendak menguji kamu
terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka
berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada
Allah-lah tempat kembali kamu
sekalian.”(Al-Maidah:48).

5 Belajar dari perjalanan waktu yang dialami

Apa yang terjadi di sekitar kita seiring perjalanan
waktu bisa kita ambil banyak pelajaran.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih berantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang yang berakal”.(Ali-Imron:19).
Suatu keharusan bagi orang mukmin untuk mengambil
pelajaran dari pergantian siang dan malam.Dalam
pergantian malam dan siang terjadi berjuta-juta
kejadian yang bisa kita ambil pelajaran. Proses
kelahiran dari bayi menjadi anak-anak kemudian menjadi
pemuda dan akhirnya menjadi tua lalu meninngal.
Gugurnya daun yang tidak terhitung setiap harinya,
kemudian berganti dengan tunas-tunas baru. Antara
kegembiraan dan kesedihan yang datang silih berganti
selama masih ada kehidupan.

6. Keharusan menengok masa lalu, perhatian terhadap
masa depan dan masa kini

Mempelajari sejarah masa lalu berarti mengambil
pelajaran dari kejadian yang telah menimpa kita atau
orang lain. Pelajaran tersebut bisa menjadi tolak ukur
ketika akan melakukan aktivitas agar tidak terjadi
kesalahan yang sama untuk kedua kalinya dan membuat
kita lebih berhati-hati dalam bertindak. Amirul
Mukminin, Umar bin Khattab menganjurkan,”Evaluasilah
diri Anda sebelum Anda dievaluasi oleh Allah, dan
timbang-timbanglah amal kebajikan Anda sebelum
ditimbang Allah.”Beliau sendiri, bila malam telah
gelap gulita, segera mencuci kakinya dan bertanya pada
dirinya,” Apa yang telah saya kerjakan pada hari
ini?”

Jika kita ingin mengevaluasi diri sendiri, waktu yang
paling tepat ketika kita hendak tidur. Apa yang telah
saya perbuat? Mengapa saya bisa berbuat demikian?
Bagaimana caranya agar perbuatan itu tidak terulang?

Konsentrasi pada masa depan adalah dasar pokok agama.
Hal ini harus betul-betul kita pikirkan. Apalah
kesenangan dunia bila berakhir menyakitkan di kobaran
api neraka? Sesungguhnya tujuan utama dari agama
adalah mempersiapkan manusia menuju kehidupan abadi di
masa mendatang, pada surga yang penuh dengan
kebahagiaan.Tujuan pokok yang ingin kita gapai
tersebut bukan berarti harus melalaikan masa depan di
dunia.Kita pun juga harus merencanakan sesuatu untuk
hari esok, menyiapkan segala sesuatu untuk diri kita /
keluarga agar tidak mengalami kesengsaraan dunia.
Antara kehidupan dunia dan akherat minimal harus
berimbang.

Di dalam Al-Quran surah Al-Hasyr ayat 18 Allah
berfirman: “Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok.”
Sedangkan memperhatikan masa kini berarti menggunakan
waktu sekarang untuk bekerja demi memperjuangkan hidup
di dunia sebelum hilang dan berlalu. Mempersiapkan
bekal untuk esok hari dan kehidupan akherat
nanti.”Apabila hari akhir sedang berlangsung sedang
di tangan seseorang dari kamu masih ada pohon yang
akan ditanam maka seandainya ia masih sempat
menanamnya, hendaklah ia tanam.”(Al-hadis).

7. Memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang Istimewa

Allah melebihkan sebagian orang atas sebagian yang
lainnya, sebagian malam atas sebagian malam lainnya
dan melebihkan waktu atas sebagian yang lain.
Kelebihan-kelebihan itu antara lain;

a) Allah melebihkan waktu akhir malam sebelum terbit
fajar. Pada saat itu Dia turun kepada hamba-hamba-Nya
dengan segala kebesaran-Nya dan memanggil:

Adakah orang yang memohon ampunan dari-Ku maka akan
Aku ampuni
Adakah orang yang akan bertaubat maka akan Aku terima
taubatnya
Adakah orang yang meminta maka
Adakah orang yang memohon
Hingga terbit fajar.(HR. Ahmad dan Muslim).

b) Allah melebihkan hari Jumat dari hari-hari lain.
Saat hari Jumat ada kewajiban shalat Jumat terutama
bagi laki-laki. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan
bahwa orang yang pertama kali datang di masjid untuk
menunaikan shalat Jumat, baginya seekor unta yang
gemuk dan sehat. Orang yang datang setengahnya akan
mendapatkan sapi, kemudian seterusnya kan mendapat
domba, ayam, telur dan akhirnya malaikat akan menutup
catatannya ketika khatib naik ke mimbar.

c) Allah melebihkan bulan Ramadhan dari bulan-bulan
lainnya.

Kewajiban puasa, anjuran memperbanyak shalat dan
beramal saleh di bulan yang disucikan ini sangatlah
beralasan, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW.
“Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang penuh
berkah, di dalamnya Allah akan melindungimu, rahmat
diturunkan, kesalahan-kesalahan dimaafkan, doa-doa
dikabulkan dan Allah menyaksikan perlombaanmu dalam
kebaikan, malaikat-Nya akan memuliakanmu, maka
perhatikanlah kepada Allah yang terbaik dari dirimu,
sesungguhnya orang-orang sengsara adalah orang yang
diharamkan atasnya rahmat Allah.”(HR. Thabrani).

d) Allah melebihkan sepuluh hari terakhir di bulan
Ramadhan/malam Lailatul-Qodar.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran)
pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam
kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat
dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya unntuk
mengatur segala urusan. Malam ini( penuh)kesejahteraan
hingga terbit fajar.”
Setiap memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan
Ramadhan, Rasululullah mengencangkan kain sarungnya
dan berjaga di malam hari serta membangunkan kembali
umatnya untuk beriktikaf.

e) Allah melebihkan bulan Rajab, Dzulkaidah dan
Dzulhijjah dan menetapkannya sebagai bulan-bulan
haram.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia
menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan
haram, itulah ketetapan Dia yang lurus, maka janganlah
kamu menganiaya dalam empat bulan
itu.”(At-Taubat:36).
Di dalam bulan ini hendaknya kita menjauhkan dari
kezaliman. Namun, bukan berarti di luar bulan tersebut
kita boleh berbuat zalim. Amatlah besar jika perbuatan
zalim itu dilakukan di bulan-bulan yang diharamkan.

f) Allah melebihkan hari kesepuluh di bulan Dzulhijjah
atau disebut hari Arafah.

“Diantara hari-hari yang paling dicintai oleh Allah
bekerja di dalamnya adalah tanggal sepuluh Dzulhijjah.
Mereka bertanya,” Wahai Rasulullah, tidaklah
berjihad di jalan Allah?” Rasulullah
menjawab,”Bukan berjihad di jalan Allah, kecuali
seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan
hartanya, maka ia tidak kembali darinya dengan membawa
sesuatu.” (HR. Bukhari).

Sebagai seorang muslim yang tidak ingin menyesal di
kemudian hari, maka kita harus pandai-pandai menata
waktu. Bagaimana cara mengatur waktu dengan baik? Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengatur
waktu selama kita masih diberi nyawa oleh Yang Kuasa
agar kita nanti tidak menyesal yaitu:

1. Buatlah jadwal kegiatan kita sehari-hari selama 24
jam.

Jadwal tersebut lebih baik kita tulis dan kita
tempelkan di tempat yang selalu terlihat sehingga
ketika ada yang terlupa, mudah untuk mengingatnya
kembali.

2. Koreksilah semua kegiatan yang telah kita lakukan
selama satu hari penuh.

Jika kita selalu mengoreksi apa yang telah kita
lakukan dalam satu hari maka akan kita ketahui
kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat maupun yang
kurang bermanfaat. Hal ini akan membuat kita lebih
selektif lagi dalam melakukan segala aktivitas dan
meminimalkan aktu yang terbuang percuma.

3. Jangan pernah melewatkan waktu berlalu begitu saja.


Usahakan kemanapun Anda pergi bawalah sesuatu yang
nantinya bisa mengisi waktu kosang ketika kita
bepergian. Misalnya, ketika kita antre membayar pajak,
menunggu anak les/ sekolah, menunggu bus, menunggu
ustadz mengisi pengajian. Sesuatu tersebut lebih baik
adalah buku, namun tidak tertutup kemungkinan jika
kita hobi menulis atau juga hobi memotret, kegiatan
tersebut bisa saja kita lakukan, siapa tahu bisa
mendapatkan keuntungan finansial dan menambah uang
belanja kita.

4. Jangan pernah menunda pekerjaan.

Ada seorang pembesar, mengundang seorang laki-laki
yang saleh untuk menghadiri acara makan bersama. Ia
berhalangan tidak dapat menghadiri acara tersebut
karena berpuasa. Serta merta pembesar itu berkata,
“Makanlah hari ini dan berpuasalah esok
hari!”Dengan tegas orang ya ng saleh itu mengatakan,
“ Apakah engkau menjamin saya akan hidup hingga
esok?
Kematian adalah sebuah rahasia Ilahi yang kedatanganya
tidak bisa kita prediksi. Banyak sebab kematian, namun
mati itu pasti akan menghampiri kita. Sayang sekali
jika apa yang kita tunda adalah urusan akherat maka
sangat berbahaya sekali.

Seorang penyair merangkai untaian puisi tentang
menunda pekerjaan.
Tak kan kutunda pekerjaan hari ini
Hingga esok hari
Sungguh esok adalah
Hari bagi para pemalas

Akhirnya sebagai seorang muslim yang ingin berbahagia
hidup di dunia atau akherat, dan selalu dijaga oleh
Allah maka kita hendaknya selalu berdoa :
“Allahumma innii a’uudzubika minalhammi wal huzni
wa a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasali.

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesengsaraan
dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari
kelemahan dan kemalasan.”

Kita pun bisa mencontoh doa yang dipanjatkan Abu Bakar
As-Shidiq berikut ini Allahumma laa tada’naa fii
ghumrotin wa laa ta’ khudznaa ‘alaa ghirrotin wa
laa taj’alnaa minalghaafiliin. ”Ya Allah,
janganlah Engkau membiarkan kami dalam kesengsaraan,
dan janganlah Engkau menyiksa kami karena kelalaian,
serta janganlah Engkau menjadikan kami termasuk
golongan orang-orang yang lalai.” AMIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar